Jakarta, 28/11 (ANTARA) - Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara yang tempo dulu adalah sebuah pulau yang pernah menjadi perebutan oleh pasukan sekutu Amerika Serikat dengan militer Jepang pada Perang Dunia ke-2, kini merana dalam ketidakberdayaan.
Kemegahan dan pesatnya pembangunan Pulau Morotai yang melebihi kota Jakarta pada tahun 1944, kini jauh tertinggal dengan daerah-daerah lain.
Prasarana jalan yang menghubungkan desa-desa di Pulau Morotai masih menggunakan jalan-jalan warisan tentara Sekutu pada perang dunia yang sudah termakan usia.
"Bahkan Lapangan Udara Pitu Morotai yang dulu mempunyai tujuh landasan pacu dengan panjang 3500 meter yang pada saat itu Jakarta masih belum memiliki Halim Perdanakusuma, kini sudah ditumbuhi ilalang dan sebagian juga sudah menjadi jalan umum yang menghubungkan antar desa di Morotai Selatan," kata Kepala Bappeda Morotai, Maluku Utara Muklis Baay saat menerima kunjungan wartawan Jakarta di Morotai, akhir pekan lalu.
Pembangunan Pulau Morotai yang baru 19 bulan menjadi kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Halmahera Utara, kini baru sebatas pembahasan dalam seminar-seminar di Ternate maupun di Jakarta.
Oleh karena itu, tahun-tahun mendatang pulau ini diharapkan akan menjadi pusat perdagangan bagi daerah Indonesia Timur ke Asia Tenggara, Taiwan dan Jepang karena letaknya strategi di Samudra Pasifik, kata Muklis.
Menurut sejarah, kata Muklis, Amerika Serikat pada tahun 1944 menempatkan lebih 5000 pasukannya di pulau ini untuk melakukan penyerangan pasukan Jepang di Indonesia dan negara Asia lainnya.
Jumlah 5000 tentara sekutu AS itu diperkirakan lebih dari setengahnya berkedudukan di Pulau Morotai untuk melakukan penyerangan tentara Jepang di Indonesia dan Negara lain di Asia Tenggara.
Bandar udara pun dibangun agar bisa didarati pesawat-pesawat tempur milik AS dan para sekutunya. Di bawah komando Panglima Divisi VII AS, Jenderal Douglas MacArthur yang heroik itu, sebanyak 63 batalion mendarat di Tanjung Dehegila, Morotai sejak 15 September 1944.
Sedangkan pemimpin pasukan sekutu, jenderal berbintang empat itu menggalang kekuatan ribuan pasukan dari berbagai angkatan mulai dari darat, laut, dan udara di suatu pulau bernama Pulau Zum-zum (jarak 40 menit dari Pulau Morotai).
Bandara Pitu dipilih AS sebagai pintu masuk pasukan tempur AS karena secara geografis memang sangat strategis di kawasan Asia Pasifik. Dan terbukti, Morotai mampu membawa kemenangan bagi tentara AS dalam menundukkan musuh utamanya, tentara Nippon.
Dengan kemegahan bandara Pitu tersebut Bandara Morotai tahun 1950 diserahkan kepada bangsa Indonesia. sejak itu pula, kata seorang tokoh masyarakat angkatan 45, Mohammad Ibrahim terasa tidak terawat.
Landasan ini yang ada hanya satu landasan milik TNI Angkatan Udara sedang enam lainnya sudah ditumbuhi meskipun bekas landasan masih ada sudah tidak terawat lagi, katanya.
Lambatnya Pembangunan Morotai
Pejabat Bupati Morotai, Sukemi Sahab memaklumi lambatnya pembangunan di daerah yang ia pimpin karena baru berumur 19 bulan.
"Kami bagaikan bayi yang baru belajar jalan. Karena itu, pendapatan daerah Morotai dalam setahun ini hanya bisa meraup Rp1,8 miliar," ungkapnya.
Dulu daerah ini hanya sebuah kota kecamatan yang mempunyai 27 pulau yang sekian besar belum punya nama, dan sekarang sudah punya nama tapi masih banyak yang tidak berpenduduk.
Dengan kondisi penyesuaian dari kecamatan menjadi kabupaten masih harus terus bebenah diri, kata pejabat bupati tersebut. Dia menambahkan, untuk mempercepat pembangunan maka sarana dan prasarana harus dibenahi dengan biaya yang tidak sedikit.
Pemda Kabupaten Morotai kini sedang membangun jalan lingkar Pulau Morontai sepanjang 274 Km dan yang sudah selesai baru mencapai 78 km. Pada pertengahan tahun 2012 diharapkan sudah selesai.
Biaya itu sebagian besar dianggarkan di APBN sampai tahun anggaran 2012.
Dan tidak lama pembangunan pelabuhan Daruba juga diharapkan dapat ditingkatkan menjadi pelabuhan yang dapat disinggahi oleh kapal peti kemas. Begitu juga pelabuhan udara diharapkan Pemda Morotai bisa bekerjasama dengan TNI Angkatan Udara dan Kementrian Perhubungan untuk perbaikan bandara yang tujuh jalur tersebut dapat dimanfaatkan untuk disinggahi oleh pesawat komersial.
Bandara Pitu meskipun saat ini sudah dilalui pesawat perintis milik Merpati, tetapi penerbangannya tidak terjadwal sehingga diharapkan dapat diterbangi pesawat maskapai penerbangan lainnya sehingga akses dari Ternate-Morotai jangkauannya lebih cepat.
Akses Morotai kini masih sulit karena harus menyinggahi dulu Gallea Kabupaten Tabelo dengan jarak penerbangan sekitar 40 menit dengan kemudian menyambung lagi ke pelabuhan Tabelo untuk melalui jalan laut dengan menempuh perjalan sekitar tiga jam.
Morotai juga bisa ditempuh melalui air dan darat dengan waktu sekitar tujuh jam sampai di Ternate ibu kota propinsi Maluku Utara.
Bahkan kata Sukemi, Pelindo akan memperbaiki pelabuhan Morotai yang letaknya di Daruba, karena pihak Pelindo optomis pembangunan pelabuhan Morotai bisa menjadi pelabuhan Makassar yang kini sudah mulai jenuh.
Padat
"Beberapa hari lalu kami sudah melakukan pembicaraan dengan pihak Pelindo dam tim Pelindo juga sudah melakukan survai," katanya.
Begitu juga dengan pihak TNI Angkatan Udara, Pemda Kabupaten Morotai sudah berkrim surat untuk izin pemanfaatan salah satu dari tujuh landasan yang ada boleh diperbaiki untuk pendaratan pesawat penumpang umum, tapi masih belum ada jawaban, katanya.
Jika Bandara Pitu yang dulunya dipakai tentara sekutu untuk pesawat tempur dapat diperbaiki dan diizinkan untuk bandara komersial maka akan dapat mempermudah ekspor komoditi asal Indonesia Tunur, terutama ekspor hasil perikanan tangkap laut. Karena Morotai ke Taiwan hanya ditempuh dengan tiga jam sedangkan ke Jepang juga tiga jam dan ke Filipina hanya satu jam saja.
Sukemi optimistis jika akses masuk Pulau Morotai dapat dipermudah maka investor akan berduyun-fuyun datang ke pulau itu, meskipun menurut para ahli geologi rawan terhadap bencana alam seperti gempa bumi tektonik dan tsunami.
Meskipun rawan bencana Morotai masih menjadi incaran para investor asing. Kalau tidak strategis kenapa AS dan Jepang pada PD II memperebutkan pulau itu.
"Ya, kalau letaknya tidak strategis untuk akses memudahkan jangkauan ke berbagai penjuru dunia, tentu tidak diperebutkan oleh kedua negera tersebut," kata Bupati.
Tahun 2012, setelah tiga tahun menjadi kabupaten diharapkan bisa menggeliat mengejar ketertinggalan pembangunan dengan kabupaten lain di Indonesia.
Kalau para tentara asing datang di pulau Morotai untuk berperang diharapkan di masa mendatang orang asing datang untuk menanamkan modalnya di Morotai, kata Bupati Sukemi.
Diharapkan Morotai bisa menjadi pusat pertumbuhan industri di Indonesia Timur, seperti Batam di Indonesia Barat.
Saturday, 27 November 2010
MOROTAI PULAU KENANGAN YANG TERLUPAKAN
Posted by admin on 20:55


0 comments:
Post a Comment