Showing posts with label Lingkungan. Show all posts
Showing posts with label Lingkungan. Show all posts

Saturday, 27 November 2010

MOROTAI PULAU KENANGAN YANG TERLUPAKAN

Jakarta, 28/11 (ANTARA) - Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara yang tempo dulu adalah sebuah pulau yang pernah menjadi perebutan oleh pasukan sekutu Amerika Serikat dengan militer Jepang pada Perang Dunia ke-2, kini merana dalam ketidakberdayaan.

Kemegahan dan pesatnya pembangunan Pulau Morotai yang melebihi kota Jakarta pada tahun 1944, kini jauh tertinggal dengan daerah-daerah lain.

Prasarana jalan yang menghubungkan desa-desa di Pulau Morotai masih menggunakan jalan-jalan warisan tentara Sekutu pada perang dunia yang sudah termakan usia.
"Bahkan Lapangan Udara Pitu Morotai yang dulu mempunyai tujuh landasan pacu dengan panjang 3500 meter yang pada saat itu Jakarta masih belum memiliki Halim Perdanakusuma, kini sudah ditumbuhi ilalang dan sebagian juga sudah menjadi jalan umum yang menghubungkan antar desa di Morotai Selatan," kata Kepala Bappeda Morotai, Maluku Utara Muklis Baay saat menerima kunjungan wartawan Jakarta di Morotai, akhir pekan lalu.

Pembangunan Pulau Morotai yang baru 19 bulan menjadi kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Halmahera Utara, kini baru sebatas pembahasan dalam seminar-seminar di Ternate maupun di Jakarta.

Oleh karena itu, tahun-tahun mendatang pulau ini diharapkan akan menjadi pusat perdagangan bagi daerah Indonesia Timur ke Asia Tenggara, Taiwan dan Jepang karena letaknya strategi di Samudra Pasifik, kata Muklis.

Menurut sejarah, kata Muklis, Amerika Serikat pada tahun 1944 menempatkan lebih 5000 pasukannya di pulau ini untuk melakukan penyerangan pasukan Jepang di Indonesia dan negara Asia lainnya.
Jumlah 5000 tentara sekutu AS itu diperkirakan lebih dari setengahnya berkedudukan di Pulau Morotai untuk melakukan penyerangan tentara Jepang di Indonesia dan Negara lain di Asia Tenggara.

Bandar udara pun dibangun agar bisa didarati pesawat-pesawat tempur milik AS dan para sekutunya. Di bawah komando Panglima Divisi VII AS, Jenderal Douglas MacArthur yang heroik itu, sebanyak 63 batalion mendarat di Tanjung Dehegila, Morotai sejak 15 September 1944.

Sedangkan pemimpin pasukan sekutu, jenderal berbintang empat itu menggalang kekuatan ribuan pasukan dari berbagai angkatan mulai dari darat, laut, dan udara di suatu pulau bernama Pulau Zum-zum (jarak 40 menit dari Pulau Morotai).

Bandara Pitu dipilih AS sebagai pintu masuk pasukan tempur AS karena secara geografis memang sangat strategis di kawasan Asia Pasifik. Dan terbukti, Morotai mampu membawa kemenangan bagi tentara AS dalam menundukkan musuh utamanya, tentara Nippon.

Dengan kemegahan bandara Pitu tersebut Bandara Morotai tahun 1950 diserahkan kepada bangsa Indonesia. sejak itu pula, kata seorang tokoh masyarakat angkatan 45, Mohammad Ibrahim terasa tidak terawat.

Landasan ini yang ada hanya satu landasan milik TNI Angkatan Udara sedang enam lainnya sudah ditumbuhi meskipun bekas landasan masih ada sudah tidak terawat lagi, katanya.


Lambatnya Pembangunan Morotai
Pejabat Bupati Morotai, Sukemi Sahab memaklumi lambatnya pembangunan di daerah yang ia pimpin karena baru berumur 19 bulan.

"Kami bagaikan bayi yang baru belajar jalan. Karena itu, pendapatan daerah Morotai dalam setahun ini hanya bisa meraup Rp1,8 miliar," ungkapnya.

Dulu daerah ini hanya sebuah kota kecamatan yang mempunyai 27 pulau yang sekian besar belum punya nama, dan sekarang sudah punya nama tapi masih banyak yang tidak berpenduduk.

Dengan kondisi penyesuaian dari kecamatan menjadi kabupaten masih harus terus bebenah diri, kata pejabat bupati tersebut. Dia menambahkan, untuk mempercepat pembangunan maka sarana dan prasarana harus dibenahi dengan biaya yang tidak sedikit.

Pemda Kabupaten Morotai kini sedang membangun jalan lingkar Pulau Morontai sepanjang 274 Km dan yang sudah selesai baru mencapai 78 km. Pada pertengahan tahun 2012 diharapkan sudah selesai.

Biaya itu sebagian besar dianggarkan di APBN sampai tahun anggaran 2012.

Dan tidak lama pembangunan pelabuhan Daruba juga diharapkan dapat ditingkatkan menjadi pelabuhan yang dapat disinggahi oleh kapal peti kemas. Begitu juga pelabuhan udara diharapkan Pemda Morotai bisa bekerjasama dengan TNI Angkatan Udara dan Kementrian Perhubungan untuk perbaikan bandara yang tujuh jalur tersebut dapat dimanfaatkan untuk disinggahi oleh pesawat komersial.

Bandara Pitu meskipun saat ini sudah dilalui pesawat perintis milik Merpati, tetapi penerbangannya tidak terjadwal sehingga diharapkan dapat diterbangi pesawat maskapai penerbangan lainnya sehingga akses dari Ternate-Morotai jangkauannya lebih cepat.

Akses Morotai kini masih sulit karena harus menyinggahi dulu Gallea Kabupaten Tabelo dengan jarak penerbangan sekitar 40 menit dengan kemudian menyambung lagi ke pelabuhan Tabelo untuk melalui jalan laut dengan menempuh perjalan sekitar tiga jam.

Morotai juga bisa ditempuh melalui air dan darat dengan waktu sekitar tujuh jam sampai di Ternate ibu kota propinsi Maluku Utara.

Bahkan kata Sukemi, Pelindo akan memperbaiki pelabuhan Morotai yang letaknya di Daruba, karena pihak Pelindo optomis pembangunan pelabuhan Morotai bisa menjadi pelabuhan Makassar yang kini sudah mulai jenuh.


Padat
"Beberapa hari lalu kami sudah melakukan pembicaraan dengan pihak Pelindo dam tim Pelindo juga sudah melakukan survai," katanya.

Begitu juga dengan pihak TNI Angkatan Udara, Pemda Kabupaten Morotai sudah berkrim surat untuk izin pemanfaatan salah satu dari tujuh landasan yang ada boleh diperbaiki untuk pendaratan pesawat penumpang umum, tapi masih belum ada jawaban, katanya.

Jika Bandara Pitu yang dulunya dipakai tentara sekutu untuk pesawat tempur dapat diperbaiki dan diizinkan untuk bandara komersial maka akan dapat mempermudah ekspor komoditi asal Indonesia Tunur, terutama ekspor hasil perikanan tangkap laut. Karena Morotai ke Taiwan hanya ditempuh dengan tiga jam sedangkan ke Jepang juga tiga jam dan ke Filipina hanya satu jam saja.

Sukemi optimistis jika akses masuk Pulau Morotai dapat dipermudah maka investor akan berduyun-fuyun datang ke pulau itu, meskipun menurut para ahli geologi rawan terhadap bencana alam seperti gempa bumi tektonik dan tsunami.

Meskipun rawan bencana Morotai masih menjadi incaran para investor asing. Kalau tidak strategis kenapa AS dan Jepang pada PD II memperebutkan pulau itu.

"Ya, kalau letaknya tidak strategis untuk akses memudahkan jangkauan ke berbagai penjuru dunia, tentu tidak diperebutkan oleh kedua negera tersebut," kata Bupati.

Tahun 2012, setelah tiga tahun menjadi kabupaten diharapkan bisa menggeliat mengejar ketertinggalan pembangunan dengan kabupaten lain di Indonesia.

Kalau para tentara asing datang di pulau Morotai untuk berperang diharapkan di masa mendatang orang asing datang untuk menanamkan modalnya di Morotai, kata Bupati Sukemi.

Diharapkan Morotai bisa menjadi pusat pertumbuhan industri di Indonesia Timur, seperti Batam di Indonesia Barat.

TINGGI GELOMBANG SELAT BANGKA UTARA 2,5 METER

Pangkalpinang, 28/11 (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung memprakirakan tinggi gelombang di perairan Selat Bangka bagian utara, berkisar 1,8 meter hingga 2,5 meter, selama 24 jam mulai Senin (29/11) pukul 07.00 WIB.
Koordinator Unit Analisa pada Kantor BMKG Pangkalpinang, Muslimin di Pangkalpinang, Minggu, menjelaskan, arah kecepatan angin di perairan Selat Bangka bagian utara dari timur hingga selatan berkisar 15 hingga 25 km per jam.

Tinggi gelombang di perairan Selat Gelasa berkisar 1,3 hingga dua meter dan arah serta kecepatan angin dari timur laut hingga tenggara berkisar 10 hingga 25 km per jam.

Demikian juga, tinggi gelombang di perairan Selat Bangka bagian selatan berkisar 1,3 sampai dua meter dan arah kecepatan angin dari tenggara hingga barat laut berkisar 10 sampai 22 km per jam.

Ia mengatakan, kondisi cuaca di daratan Pulau Bangka berawan banyak berpotensi hujan ringan hingga sedang tidak merata disertai petir.

Arah dan kecepatan angin dari barat daya hingga barat laut mencapai 10 sampai 26 km per jam, suhu udara 24 sampai 31 derajat celsius dan kelembaban udara mencapai 60 sampai 96 persen.

Demikian juga, kondisi cuaca di daratan Pulau Belitung berawan banyak dan berpotensi hujan ringan hingga sedang disertai petir.

Selain itu arah angin dari barat daya hingga barat laut dengan kecepatan 10 sampai 24 km per jam, suhu udara 23 sampai 30 derajat celsius dan kelembaban udara mencapai 70 sampai 99 persen.

AROUND 4,000 INDONESIAN ISLANDS MAY DISAPPEAR DUE TO GLOBAL WARMING

Makassar, S Sulawesi, (ANTARA) - Around 4,000 islands in Indonesia may disappear when the sea surface rises due to global warming, a government official said.

"Global climate change could cause the sea level to rise high enough submerge 4,000 islands in Indonesia," William Suhandar, deputy to the head of the Presidential Work Unit for Development Management and Supervision (UKP4), said here Saturday.

As many as 4,000 of Indonesia's 17,500 islands might disappear if the sea level rose by two meters, he said.

"This will be unavoidable if global warming continues causing the sea level to keep rising as happened thousands of years ago when ice bergs melted," he said.

The earth's surface temperature had risen 0.7 degrees Celsius over the last 100 years, he said, adding that this was tangible and reasonable evidence of climate change.

Moreover, the period 1995-2010 had been recorded as the hottest in the last 150 years since 1850, he said.

"There has been an unusual shift in rainfall patterns so that it is now difficult to distinguish the seasons, to differentiate the rainy from the dry season," he said.

Extreme weather and temperatures which occur every year could lead to or trigger natural disasters, he said.

He aid there were two major causes of climate change. One was mismanaged land utilization, deforestation and carbon emission from fossil fuels that exacerbate the green house effect in the atmosphere leading to rising global temperature.

The increasing global temperature could cause the sea level to rise and this posed a threat to around 4,000 islands in Indonesia, he said.

Mitigation of and adaptation to climate change could be advantageous to minimize the effect of global warming and climate change, he said.

MINISTER: COMPANIES UNFRIENDLY TO ENVIRONMENT TO GET SANCTIONS

Bogor, West Java, Nov 27 (ANTARA) - The Indonesian government will take a tougher stance against companies that do not care about the environment.

Companies that neglect environment management will be given sanctions, state minister for environmental affairs, Gusti Muhammad Hatta, said here on Saturday.

He made the statement after attending the presentation of awards to winners of animal photo competition held to mark the Love Flower and National Animals Day at Hotel Safari Garden, Bogor, West Java.

"Many companies still have a black mark. We will give them sanctions if they would not change," he said.

Quoting the results of Company Performance Ranking Evaluation (PROPER) 2010 the minister said that only two companies that were considered good and received a gold mark. The rests received either red, blue, green and black marks.

The minister said the sactions for companies that ignored environment management could be in the form of criminal or civil sanctions but they would be given in stages following an evaluation.

He said the government would take those with a black mark to court if after the second evaluation they still get a black mark.

"We will see in the second year. If the companies that have a black mark get another black mark in the second year and did not change we would give them sanctions and take them to court for a criminal and civil trial, he said.

The minister said it was very difficult to get a gold mark due to a tight evaluation. He said he would prioritize companies with a blue mark that have met standards and made no pollution.

"Companies that prevent air and water pollution get a red mark and they will get a blue mark if they later prevent hazardous B3 wastes. Their mark will turn green if they meet the blue mark requirements and carry out corporate social responsibilities (CSR) and if their internal audit and management are good they will then be awarded a gold mark. Getting a gold mark is very difficult and therefore only two companies have so far got the mark," he said.

PROPER is one of the programs in the supervision of business enterprises' environment management activities aimed at encouraging companies to keep improving their performance in environment management.

The two companies that received a gold mark are Chevron Geothermal Indonesia Ltd., Darajat Geothermal Unit in Garut, West Java, and the Cilacap plant of PT Holcim Indonesia Tbk. in Central Java.

The minister said he would act firmly against companies that did not care about the environment and right now four companies were already being processed in court for that.

Friday, 26 November 2010

BALANGAN NURSING 531,500 TREE SEEDLINGS FOR PLANTING DRIVE

Paringin, S.Kalimantan, Nov 26 (ANTARA) - Balangan district's forestry and plantation office will nurse 531,500 seedlings under the One Billion Indonesian Trees (OBIT) program, its chief, A.Effendi said here Friday.

"The OBIT program runs from February to December 2010 and so far we have planted as many as 500,000 seedlings," he said.

As part of the OBIT program, the office was now nursing 30,000 trambesi (Albizia saman) seedlings provided by the central government.

Meanwhile, 1,500 seedlings consisting of glodokan pole (Polyalthia longifolia pendula) and flower cape were being nursed for planting in Desember 2010, Effendi said.

"Actually more seedlings are being nursed at South Kalimantan provincial forest tree cultivation center (BPTH) but the number is not yet known," he said.

Seedlings being nursed by BPTH were fruit trees, including breadfruit, which would be planted as part of the family welfare program (PKK).

"The location of the tree planting drive would be Gambah village, Paringin South sub district, and it would be opened by head of district," Effendi added.

It is targeted the program will be done by 10 December.

OBIT is a series of central government's programs launched on the Indonesia Planting Trees Day and National Planting Month on 28 November 2008.

In 2009, "One Men One Tree" or OMOT had been implemented through which the Indonesian people were encouraged to plant at least one one tree.

Through the program it is expected to achieve a sustainable maintenance of trees in order to reduce global warming and to reach clean Indonesia development.

OBIT activities conducted with the goal of making every stretch of land become green, both inside and outside the forest area.

Through this way it is hoped to provide protection function, aesthetics, economic output as well as carbon sequestration.

Thursday, 25 November 2010

Forum Peduli Lingkungan Tanam Ribuan Pohon

Ungaran, 25/11 (ANTARA) - Forum Peduli Lingkungan Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah menanam ribuan pohon di daerah setempat untuk mendukung program pemerintah mengenai pengurangan emisi hingga 26 persen.

Penanaman ribuan pohon itu dilakukan di Desa Jatirunggo, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang oleh Forum Peduli Lingkungan Pringapus yang didukung oleh PT Bina Guna Kimia (BGK), dan masyarakat setempat, Kamis.
Penanaman pohon itu juga dibuka secara simbolik oleh Bupati Semarang, Mundjirin.
Salah seorang anggota Forum peduli lingkungan Pringapus, Dani Haya (38) mengatakan, pihaknya mendukung dengan gerakan nasional penanaman satu milyar pohon. Menurutnya, jika penghijauan itu dilakukan serempak di seluruh dunia diharapkan mutu udara akan semakin baik.

"Pekarangan menjadi salah satu alternatif murah bagi anggota masyarakat yang ingin berpartisipasi. Sebaiknya Pemerintah memberikan stimulan berupa penyediaan bibit tanaman untuk dibagikan gratis kepada masyarakat," katanya.

Plant Manager PT BGK, Muhammad Syarif Assegaf mengatakan, pihaknya mendukung upaya pelestarian lingkungan bekerja sama dengan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Semarang dan masyarakat.

"Pada tahap awal kami menyediakan seribu bibit pohon penghijauan yakni jati, durian dan matoa. Pada tahap selanjutnya akan ada gerakan terpadu untuk terus berusaha melestarikan lingkungan," katanya.

Ia mengatakan, rincian pohon yang ditanam kali ini adalah berupa 500 pohon jati, 400 pohon Matoa, dan 100 pohon durian. Ribuan pohon itu ditanam di bantaran sungai dan lahan kosong yang ada di sekitar bantaran sungai. Selain itu juga ditanam di lahan warga tersendiri.

"Diharapkan penanaman pohon ini akan menjadi embrio pembentukan pusat tanaman buah di Jatirunggo," katanya.

Bupati Semarang, Mundjirin mengatakan, gerakan penghijauan merupakan langkah nyata untuk mengantisipasi terjadinya perubahan iklim dan pemanasan global yang merugikan kehidupan manusia.

"Saat ini bisa disebut telah terjadi anomali iklim. Contohnya biasanya pada Bulan September banyak wilayah yang kekeringan dan kekurangan air bersih. Namun saat ini ada yang malah kebanjiran," katanya.

Oleh karena itu, kata dia, gerakan penghijauan menjadi sangat penting untuk menjaga mutu udara dan mengurangi emisi gas karbon.

Ia menambahkan, pihaknya juga mengajak segenap perusahaan swasta yang ada untuk peduli lingkungan dan ikut serta dalam gerakan penanaman pohon penghijauan.

"Harapannya, budaya menanam pohon akan semakin memasyarakat dan mendapat perhatian semua pihak," katanya.